Friday, 30 December 2011

Sebelum hilang

Labih baik kamu memilikinya walaupun kenyataan menolakmu...
Sekali lagi lebih baik kamu memilikinya walaupun kamu berusaha menolaknya...
Daripada, kenyataan menghendakimu, tapi kamu malah malas...
Tidak bisa dipaksakan...
#Sepintas pemikiran yang muncul begitu saja ketika tanpa sengaja membaca catatan seseorang. Sepintas pemikiran yang muncul begitu saja dari ungkapan antar seseorang yang punya sedikit "kesamaan" dalam menghadapi beberapa hal.

Monday, 5 December 2011

Sampe ketemu Desember 2012

Dadakan? Iya.

Gue mau Hiatus dulu, stop posting di blog ini.

Alasannya? Nggak ada. Gue sendiri belum tau.

Sampai kapan? Desember 2012 (Batas waktu bisa berubah dengan alasan tertentu sesuka gue. :P)

Tapi ini bukan berarti Gue hiatus dari Internet. Jadi kalo masih ada yang mau nyapa atau sekedar say Hai gue siap sedia kok, termasuk yang mau ngasih info event atau lomba juga, dengan senang hati gue nerimanya. :)

Well, see you next December 2012. ;)

Thursday, 1 December 2011

Refleksi hari ini

Sore hari selesai ada kerjaan di daerah mangga dua gue bernecana balik ke kantor.

“Kemana mas?” Supir taksi nyapa gue begitu gue masuk kedalam mobilnya dan nutup pintu.

“Ke Benhil ya.”

“Nggak mas, maaf ya.”

“Eh? Nggak gimana? Kok brenti tadi pas saya stop kalo nggak mau?” Gue sedikit bingung sama si mas-mas supir taksinya. Tapi dia malah senyum-senyum nggak jelas gitu. Dengan terpaksa gue keluar.

Bingung. Pasti. Apakah tampang gue nggak meyakinkan untuk jadi orang baik-baik yang pasti bayar setelah diantar sampai tujuan? Atau si supir tadi emang nggak mau nganter gue karena tujuan gue yang lumayan jauh dari daerah mangga dua. Dari utara, kantor gue ada di selatan. Belum lagi macetnya. Tapi masa iya taksi punya daerah operasi masing-masing, bukannya selama masih dalam kota oke oke aja.

Dalam hati gue lebih menduga-duga kalo supir tadi ragu sama gue yang sepertinya bertampang kriminal dimata dia. Arrgghh. Masa tuduhan para gunderwo tempo lalu––di mangga dua juga––ada hubungannya sama keanehan supir taksi itu. Ngurut dada sambil menghela napas.

Nggak lama gue dapet taksi lain, kali ini supirnya mau nganterin gue ke daerah benhil. Perasaan gue lega karena gue nggak dicurigai sebagai penjahat seperti dugaan gue terhadap supir taksi sebelumnya.

“Tadi kenapa mas? Kok baru masuk langsung keluar lagi.” Pak supir tanya penasaran ke gue.

“oh tadi bapak liat ya, iya tadi si masnya nggak mau nganterin saya. Nggak tau tuh apa yang salah.”

“wah, itulah bedanya antar group taksi yang satu sama yang lain mas.” Si bapak supir nyautin gue sambil senyum lebar.

“Munugkin dia lagi nggak mood kali pak nganter jauh-jauh.” Tebakan gue sekenanya.

“Bisa jadi mas, kebanyakan kalo supir lagi nggak mood narik, pengenya muter-muter aja ngindarin macet nggak jelas sambil dengerin musik.”

“Wah, berarti termasuk bapak juga dong.” Sindir gue ngeledek pak supir yang lagi serius nyetir.

“Hehe, bisa aja. Tapi nggak berlebihan juga harusnya mas, ini kan sudah pekerjaan kita. Jadi harunya kita bisa nerima mau bagaimanapun keadaanya. Mau seberapapun capenya. Jangankan supir, bos-bos aja itu yang di kantoran capek.”

“Mungkin aja, gue kan belum pernah jadi bos.” Jawaban gue dalam hati.

‘… Ini kan sudah pekerjaan kita. …’ Kalimat si pak supir yang ini terasa kental banget di pikiran gue. Mendominasi.

Mau gimanapun keadaanya, peran itu udah ditentukan masing-masing sama Tuhan, jadi jalanin aja peran yang ada dengan  baik. Itu udah jadi skenario terbaik yang dikasih Tuhan.

“Group Taksi itu beda-beda, dari pelayananya saja mas bisa tau kan, perbedaan group taksi kita (si pak supir) sama yang lain, customer kita adalah raja, makannya saya selalu nyapa customer yang datang, selamat pagi pak, selamat siang bu.” Pak supir sepertinya sedang promosi.

Banyak orang susah buat berterimakasih. Jangankan berusaha yakin dan meyakinkan kalo yang dimiliki adalah yang terbaik, berusaha menerima aja banyak nggak sukanya. Beda sama keadaan supir taksi yang ada di depan gue. Dengan pekerjaanya yang dimulai dari mulai subuh sampe jam 12 malam, dia semangat dan menjunjung tinggi group taksinya tempat dia kerja. Berusaha meyakinkan konsumen supaya lebih tertarik pake group taksinya dia. Padahal belum tentu konsumennya ketemu lagi sama dia, supir yang sama.

Itu refleksi kehidupan. Apa yang kita tebar, itu yang kita terima, apa yang kita lakuin sekarang, itulah keadaan kita sebenarnya, di masa mendatangpun. Hidup itu hari ini. Bukan kemarin, bukan besok, tapi hari ini. Iya, hari ini. Semua kegiatan kita sekarang ini adalah gambaran keadaan kita dimasa mendatang. Sama seperti yang dilakukan pak supir yang mungkin dari dulu sudah membiasakan diri untuk memberikan yang terbaik untuk peran yang dikasih Tuhan ke dia. Sehingga sekarang pun dia sudah terbiasa untuk benar-benar  menerima dan memberikan yang terbaik.

Walaupun memang nasib dan takdir kita nggak tau, tapi udah ada aturannya supaya kita terus berusaha. Nggak ada yang tau keadaan besok seperti apa, yang bisa dilakukan adalah berusaha memberikan yang terbaik. Sekali lagi, keadaan sekarang menggambarkan kita besok hari. Semua ucapan yang seperti ini caranya, semua tindakan yang seperti itu tingkahnya, tanpa sadar nanti jadi kebiasaan dan besok kamu adalah orang dengan semua karakter itu. Kecuali kalo punya kepribadian ganda.

Hari ini itu refleksi kehidupan yang sebenarnya zal. Apa yang kita tanam sekarang baru bisa dirasakan hasilnya dikemudian hari :)