Saturday, 29 October 2011

A Millisecond

If I could go back once again, I would change everything...
If I could go back once again, I'll do it all so much better...
But time won't let me go...

Selalu ada pilihan untuk weekend, dan jalan yang gue pilih adalah pergi kekantor disaat hari libur kayak gini. Disamping harusnya gue kuliah, waktu gue untuk istirahat dihari libur juga jadi tersita. Yaaa.. Mengeluh. Lagi. Setiap orang memang punya momen itu masing-masing, dimana saat mereka merasa mengeluh itu adalah hal yang wajar, begitu juga gue. Walaupun sebenernya udah jelas kalo itu sia-sia!

Bosen itu biasa, tapi kalo sambil ngigau itu udah nggak biasa. Nggak mungkin juga kan kita bisa balik lagi ke masa lalu. Tapi tetep aja, gue, masih aja suka mengandai-andai, kalo aja bisa kembali ke beberapa hari yang lalu, beberapa bulan yang lalu, atau bahkan beberapa tahun yang lalu. *Kenapa nggak sekalian aja balik lagi disaat baru pertama kali dilahirkan!*

Kenyataan waktu nggak akan pernah bisa balik lagi. You can’t play back your life. Even a millisecond.

Jadi daripada menghayal gimana caranya bisa balik lagi ke hari kemarin, kenapa nggak fokus aja supaya lebih bisa memanage semuanya jadi lebih teratur. Nggak usah lagi lah mikir gimana enaknya kalo punya kerjaan yang lebih santai suapaya kuliahya jadi nggak terbengkalai, nggak usah lagi mikirin gimana enaknya nyontek tugas-tugas kuliah biar nggak usah capek-capek mikir.

Fokus aja sama yang udah ada. Karena bersyukur itu akan lebih mudah kalo kita fokus sama apa yang kita punya, bukan sama apa yang kita ingini.

Hidup itu pilihan. Hidup itu tanggung jawab. Hidup itu konsekuensi. Hidup itu ya hari ini! Bukan kesalahan dihari kemarin ataupun bayangan dihari esok. Jadi lakukan aja yang terbaik buat sekarang.

Kalo memang sudah jelas dan benar ada keinginan, maka akan terbukalah jalan.

Friday, 14 October 2011

Nur ein wort, Hanya satu kata

Sebagai seseorang. Mungkin umum untuk memiliki banyak keinginan bahkan ambisi. Tapi kalo keinginan itu nggak pernah terwujud? Cuma jadi mimpi kosong nantinya. hampa.

Gue mau ngutip kutipannya Dewi Lestari disini:
"Bagaimana hampa bisa menyakitkan? Hampa harusnya berarti tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa harusnya berarti tidak ada masalah. Termasuk rasa sakit."

Terkadang diam itu memang indah, mengistirahtakan diri dari berbagai ambisi yang egois. Supaya bisa logis dan lebih realistis. Selanjutnya yang kita butuhkan hanyalah satu kata, diam. Tenang sejenak untuk melihat kebelakang, sebelum kembali berlari menyeimbangkan hari-hari. 

Gue dikasih video band asal Jerman sama temen gue, temen yang suka sama Jerman.

Wir Sind Helden – Nur Ein Wort:




Ich sehe, was du denkst

I see what you think

Ich denke, was du fühlst
I think what you feel

Ich fühle, was du willst
I feel what you want

aber ich hör' dich nicht
But I don't hear you

Bitte bitte gib mir nur ein Wort
Please please give me just one word

Es ist verrückt, wie schön du schweigst
It's crazy how cute you are when you're quiet

 - Wir Sind Helden-

Sunday, 9 October 2011

Mendung

Pagi ini Jakarta nggak kayak biasanya, panas dan menyegat, bikin tenggorokan selalu haus.

Cuaca pagi menjelang siang hari ini mendung dan teduh, dari dulu gue selalu suka sama mendung, mendung tanpa hujan, rasanya tenang.

Kalo dipikir-pikir, cuaca bumi akhir-akhir ini gampang galau, mood-moodan. Kadang panas, tiba-tiba hujan. Dan mendung kali ini seperti mendukung suasana hati gue yang tiba-tiba moody.


Terlihat aneh memang nulis random kayak gini. Biarlah, bukankah dengan menulis bisa mengembangkan kreativitas, menumbuhkan semangat, dan melatih diri untuk bisa bicara dengan hati. Untuk bisa bebas. Bebas bersyukur, bebas menerima skenario yang udah ada. 

Seperti yang pernah gue baca di note temen gue;

Skenario yang paling indah adalah  adalah yang kita jalani sekarang, bukan skenario yang lain-lain, apa lagi skenario sinetron Indonesia.