Friday, 30 December 2011

Sebelum hilang

Labih baik kamu memilikinya walaupun kenyataan menolakmu...
Sekali lagi lebih baik kamu memilikinya walaupun kamu berusaha menolaknya...
Daripada, kenyataan menghendakimu, tapi kamu malah malas...
Tidak bisa dipaksakan...
#Sepintas pemikiran yang muncul begitu saja ketika tanpa sengaja membaca catatan seseorang. Sepintas pemikiran yang muncul begitu saja dari ungkapan antar seseorang yang punya sedikit "kesamaan" dalam menghadapi beberapa hal.

Monday, 5 December 2011

Sampe ketemu Desember 2012

Dadakan? Iya.

Gue mau Hiatus dulu, stop posting di blog ini.

Alasannya? Nggak ada. Gue sendiri belum tau.

Sampai kapan? Desember 2012 (Batas waktu bisa berubah dengan alasan tertentu sesuka gue. :P)

Tapi ini bukan berarti Gue hiatus dari Internet. Jadi kalo masih ada yang mau nyapa atau sekedar say Hai gue siap sedia kok, termasuk yang mau ngasih info event atau lomba juga, dengan senang hati gue nerimanya. :)

Well, see you next December 2012. ;)

Thursday, 1 December 2011

Refleksi hari ini

Sore hari selesai ada kerjaan di daerah mangga dua gue bernecana balik ke kantor.

“Kemana mas?” Supir taksi nyapa gue begitu gue masuk kedalam mobilnya dan nutup pintu.

“Ke Benhil ya.”

“Nggak mas, maaf ya.”

“Eh? Nggak gimana? Kok brenti tadi pas saya stop kalo nggak mau?” Gue sedikit bingung sama si mas-mas supir taksinya. Tapi dia malah senyum-senyum nggak jelas gitu. Dengan terpaksa gue keluar.

Bingung. Pasti. Apakah tampang gue nggak meyakinkan untuk jadi orang baik-baik yang pasti bayar setelah diantar sampai tujuan? Atau si supir tadi emang nggak mau nganter gue karena tujuan gue yang lumayan jauh dari daerah mangga dua. Dari utara, kantor gue ada di selatan. Belum lagi macetnya. Tapi masa iya taksi punya daerah operasi masing-masing, bukannya selama masih dalam kota oke oke aja.

Dalam hati gue lebih menduga-duga kalo supir tadi ragu sama gue yang sepertinya bertampang kriminal dimata dia. Arrgghh. Masa tuduhan para gunderwo tempo lalu––di mangga dua juga––ada hubungannya sama keanehan supir taksi itu. Ngurut dada sambil menghela napas.

Nggak lama gue dapet taksi lain, kali ini supirnya mau nganterin gue ke daerah benhil. Perasaan gue lega karena gue nggak dicurigai sebagai penjahat seperti dugaan gue terhadap supir taksi sebelumnya.

“Tadi kenapa mas? Kok baru masuk langsung keluar lagi.” Pak supir tanya penasaran ke gue.

“oh tadi bapak liat ya, iya tadi si masnya nggak mau nganterin saya. Nggak tau tuh apa yang salah.”

“wah, itulah bedanya antar group taksi yang satu sama yang lain mas.” Si bapak supir nyautin gue sambil senyum lebar.

“Munugkin dia lagi nggak mood kali pak nganter jauh-jauh.” Tebakan gue sekenanya.

“Bisa jadi mas, kebanyakan kalo supir lagi nggak mood narik, pengenya muter-muter aja ngindarin macet nggak jelas sambil dengerin musik.”

“Wah, berarti termasuk bapak juga dong.” Sindir gue ngeledek pak supir yang lagi serius nyetir.

“Hehe, bisa aja. Tapi nggak berlebihan juga harusnya mas, ini kan sudah pekerjaan kita. Jadi harunya kita bisa nerima mau bagaimanapun keadaanya. Mau seberapapun capenya. Jangankan supir, bos-bos aja itu yang di kantoran capek.”

“Mungkin aja, gue kan belum pernah jadi bos.” Jawaban gue dalam hati.

‘… Ini kan sudah pekerjaan kita. …’ Kalimat si pak supir yang ini terasa kental banget di pikiran gue. Mendominasi.

Mau gimanapun keadaanya, peran itu udah ditentukan masing-masing sama Tuhan, jadi jalanin aja peran yang ada dengan  baik. Itu udah jadi skenario terbaik yang dikasih Tuhan.

“Group Taksi itu beda-beda, dari pelayananya saja mas bisa tau kan, perbedaan group taksi kita (si pak supir) sama yang lain, customer kita adalah raja, makannya saya selalu nyapa customer yang datang, selamat pagi pak, selamat siang bu.” Pak supir sepertinya sedang promosi.

Banyak orang susah buat berterimakasih. Jangankan berusaha yakin dan meyakinkan kalo yang dimiliki adalah yang terbaik, berusaha menerima aja banyak nggak sukanya. Beda sama keadaan supir taksi yang ada di depan gue. Dengan pekerjaanya yang dimulai dari mulai subuh sampe jam 12 malam, dia semangat dan menjunjung tinggi group taksinya tempat dia kerja. Berusaha meyakinkan konsumen supaya lebih tertarik pake group taksinya dia. Padahal belum tentu konsumennya ketemu lagi sama dia, supir yang sama.

Itu refleksi kehidupan. Apa yang kita tebar, itu yang kita terima, apa yang kita lakuin sekarang, itulah keadaan kita sebenarnya, di masa mendatangpun. Hidup itu hari ini. Bukan kemarin, bukan besok, tapi hari ini. Iya, hari ini. Semua kegiatan kita sekarang ini adalah gambaran keadaan kita dimasa mendatang. Sama seperti yang dilakukan pak supir yang mungkin dari dulu sudah membiasakan diri untuk memberikan yang terbaik untuk peran yang dikasih Tuhan ke dia. Sehingga sekarang pun dia sudah terbiasa untuk benar-benar  menerima dan memberikan yang terbaik.

Walaupun memang nasib dan takdir kita nggak tau, tapi udah ada aturannya supaya kita terus berusaha. Nggak ada yang tau keadaan besok seperti apa, yang bisa dilakukan adalah berusaha memberikan yang terbaik. Sekali lagi, keadaan sekarang menggambarkan kita besok hari. Semua ucapan yang seperti ini caranya, semua tindakan yang seperti itu tingkahnya, tanpa sadar nanti jadi kebiasaan dan besok kamu adalah orang dengan semua karakter itu. Kecuali kalo punya kepribadian ganda.

Hari ini itu refleksi kehidupan yang sebenarnya zal. Apa yang kita tanam sekarang baru bisa dirasakan hasilnya dikemudian hari :)

Tuesday, 22 November 2011

Mr. Theory

Ketika seseorang ngomong kalo dia harus begini dan harus begitu, bisa aja cuma teorinya yang aduhai, tapi prakteknya? Mlempem! Itu klasik deh kayaknya, termasuk beberapa teori yang sering gue tekankan dalam keseharian gue. Pada akhirnya kalo semua teori-teori indah itu nggak teraplikasi dengan baik, kita cuma bisa memble dan menyadari betapa sulitnya menyeimbangkan praktek dengan teori sodara-sodara. Tak semudah membalikan telapak tangan.

Dulu waktu SMP guru fisika gue bilang, “Teori tanpa praktek itu buta! Begitu juga sebaliknya, praktek tanpa teori juga buta!”

Pernyataan itu nggak salah, orang kalo kebanyakan teori tapi nggak ada aksi sama kayak tong kosong nyaring bunyinya. Begitu juga sebaliknya orang yang asal ngambil keputusan dalam tindakan bisa aja malah nyungsep karena nggak tau rambu-rambu yang bener, kayak kentongan tapi nggak ada stik pemukulnya, nggak akan bunyi. *perumpamaannya agak awkward. Iya gue tau*

Yang jadi permasalahan adalah gimana caranya supaya kita bisa menyeimbangkan antara teori sama praktek, supaya bisa sesuai seperti kata guru fisika gue waktu SMP dulu.

Gampang, kalo mau pinter ya belajar. Kalo mau santai nggak ada beban ya selesain semua pekerjaan dulu, baru santai, nanti nggak ada beban. Kalo lagi ngerasa males, positif aja, bisa-bisain semangat, yang penting lakuin apa yang bisa dilakuin, buang jauh-jauh rasa malesnya. Tapi.. duh! Ngomong itu gampang, gampang banget serius, kenyataanya, mau ngilangin rasa males supaya nggak banyak waktu yang terbuang itu ya susahnya susah banget lah pokoknya, jangankan cepet-cepet nylesain pekerjaan, mau mulai aksinya aja kayak ngangkat barbell berkilo-kilo. *energy yang diperlukan untuk memulai aksi memang selalu jauh lebih besar daripada aksi yang sudah berjalan*

Dan memang benar, kalo semua kemalasan itu udah berubah dan berjalan dalam sebuah kegiatan atau pekerjaan, ngelanjutinya itu enak, tinggal ngalir aja.

Seperti barusan yang gue lakukan, merevisi total claim report gue selama dua bulan sesuai request dari admin baru di kantor gue. Niat buat nylesain ini sih dari 3 hari yang lalu, tapi baru bisa dikerjain dan selesai sore ini. Yang bikin gue males-malesan sebenernya bukan cuma karena banyaknya report, kalo cuma 1 atau 2 hari sih masih bisa dimaklumi. Tapi ini 2 bulan berturut-turut, aisshh.

Semua yang keliatan susah itu jadi simpel kalo kita anggap simpel, jadi ngapain dibikin repot kalo bisa dibikin simpel, ngapain dibikin susah kalo bisa dibikin gampang. Nggak usah terlalu mendramatisir keadaan.

Termasuk perasaan susahnya menyelaraskan teori sama aksi, walaupun kelihatanya emang susah. Tapi nggak bisa dong menghilangkan rencana-rencana dan susunan teori untuk kebaikan dengan alibi percuma kalo cuma tertuslis doang. Bukankah segalanya lebih mudah kalo terjadwal. Lagian nggak ada salahnya kok kalo di tulis. Kan bisa di baca suatu saat nanti. Bisa jadi motivasi tersendiri, penyemangat dikala jatuh,  dan jadi dasar perencanaan sebelum aksi-aksi yang diinginkan.

Masih seperti quotation yang pernah gue tulis, hidup itu kayak mengayuh sepeda, jangan pernah berhenti mengayuh kalo nggak mau jatuh, yang namanya cape itu pasti, kalo nggak mau cape nggak usah hidup deh. simpel kok.

*Sesulit apapun pekerjaan, semua yang udah dimulai itu harus diselesaikan. Walapun kelihatan lemah karena nulis kayak gini, yakinin aja ini ditulis sebagai penyemangat dikala sedang merasa lelah. pelan-pelan aja, sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit. Selesai juga tuh pekerjaan. Lewat juga tuh masa-masa kritis dan tak mengenakan. :)

Sunday, 20 November 2011

Carpal Tunnel Syndrome?

Kerjaan gue mengharuskan tangan gue nempel diatas laptop dari pagi sampe sore. Pulang kerja, gue belum bisa lepas dari laptop, termasuk disaat gue nulis post ini sekarang dalam keadaan ujung-ujung jari tangan kanan terasa kebas. Lagi kuliah pun sama, gue buka laptop. Pokoknya nonstop.  Malah kalo emang bisa mungkin udah gue kawinin ini laptop. Apa lagi semenjak gue nggak sengaja nemu wifi gratisan dikamar gue. Nggak tau dari mana asalnya, waktu gue mau nyolokin modem, eh wirelessnya conect dengan sendirinya, gue ping test ke blogger ternyata reply, ya sudah sampai sekarang gue online pake wifi gaib yang tiba-tiba muncul ini. Entah ini termasuk pencurian atau tidak, yang jelas wifinya nggak ada key network nya, alias public network, jadi siapa aja bisa conect sesuka hati, termasuk gue. Sip!

Karena lengketnya tangan gue sama si laptop, maka buah hasil kawin silang dengan si laptop ini pun menyebabkan tangan gue terjangkit sindrom carpal tunnel (sepertinya). Gejalanya sih gitu. Diawali kesemutan dan rasa gatal diujung-ujung jari, terus jadi kebas kayak mati rasa, dan sakit kalo ujung jarinya di teken, pergelangan tangan juga terasa pegel-pegel. Yang gue baca dari berbaai sumber sih begitu. Penyebabnya pun mirip. Karena salah posisi pegang mouse atau kelamaan ngetik diatas laptop dengan posisi yang salah. Sedangkan pengobatanya bisa dengan disuntik sebuah cairan entah apa namanya, atau kalo udah kelamaan dan makin fatal (jangka 1-2 tahun) tangan bisa lumpuh, dan harus di operasi. Horor.

Semakin gue baca forum dan artikel tentang si carpal tunnel syndrome ini gue jadi ngeri sendiri. Dalem hati sih selalu berharap ini cuma pegel-pegel biasa. Ya kalo pun emang positif carpal tunnel syndrome, mudah-mudahan ada pengobatan alternatifnya, entah akupuntur atau pijat tradisional.

Tapi untuk sementara ini sih pegel-pegelnya agak berkurang dan mendingan kalo abis di kompres pake air anget. 
Yang jelas, kalo lagi dikasih sakit gini kayak kena teguran. Gue jadi ngerasa kalo kesehataan itu tiada tara. Biasa, manusia. Baru inget kalo udah di tegur. Klasik! Hah.. mudah-mudahan tangan kanan gue nggak kenapa-kenapa.

Wednesday, 16 November 2011

Pelangi gue harus diatas air terjun Niagara

Seperti yang pernah gue bilang, setiap orang punya momennya masing-masing, termasuk mba-mba penjaga pintu parkir yang marah-marah nggak jelas gara-gara driver gue ngasih duit robek yang nggak keliatan robeknya. Sayang Pa Ahmad cuma ngomong “Kalo nggak mau cape nggak usah kerja mba, ngomong baik-baik kan bisa, biar uangnya saya ganti sama yang bener.” Ngomong santai ke si mba-mba penjaga pintu parkir. Padahal tadinya gue mau bilang “Curcol mba?” Hahai. untunglah, kalo dipikir-pikir, kata-kata yang belum sempet gue katakana itu kedengaran dalem sekali.

Well, stress itu adalah kombinasi antara kerjaan yang numpuk, terus lagi ribet-ribetnya sama kerjaan atasan nanyain terus progressnya kayak gimana, abis itu admin sama finance cerewet masalah claim report yang udah dibikin, udah mau pulang dibayang-bayangi project smester dari kampus, belum lagi ditambah tugas-tugas kuliah lain yang harus diselesain, dan disaat perjalanan pulang harus bercengkramah mesra dengan crowded nya jalanan yang macet banget. Perfecto.

Kalo udah gitu rasanya pengen pergi ke sebuah pantai indah yang bersih, atau duduk di pondok di pinggiran sawah daerah pedesaan entah dimana itu, minum es kelapa muda sambil duduk santai. Ah.. indahnya dunia, *dalam sekelebat bayangan gue*

Ada yang bilang hidup itu kayak pelangi, kalo cuma satu warna nggak akan indah. Padahal menurut gue tergantung posisi pelanginya juga, kalo pelanginya ada diatas airterjun Niagara emang indah, tapi kalo pelanginya diatas comberan item butek kekuning-kuningan ya silahkan dibayangankan.

Sama seperti keadaan gue akhir-akhir ini yang agak bikin otak ngebul, gue berusaha untuk bisa mengkondisikan semuanya dengan mengingat-ingat, “pelangi itu kalo cuma satu warna nggak akan indah, sama kayak hidup, kalo datar-datar aja nggak seru!” dan yang jelas, pelangi gue harus diatas air terjun Niagara, bukan diatas comberan!

Tapi segimanapun gue berusaha mengkondisikan keadaan gue, tetep aja, rasanya nggak enak terus-terusan kayak gini, gue ngerasa ini bukan yang gue mau, pergi kerja pake kemeja rapih, celana item, sama sepatu pantofel item. Kalo ngaca, terus liat setelan yang gue pake, gue kayak ngeliat badut. Gue nggak pengen terus-terusan jadi badut berkemeja kayak gini. Gue lebih suka pake jeans, pake kaos oblong sesuka gue, pake sepatu kets yang udah berbulan-bulan nggak di cuci tapi masih wangi, terus pergi kerja semau gue mau jam berapa aja. *curcol zal?*


Kalo udah kayak gini, rasanya gue juga pengen suatu saat nanti bisa jadi scriptwriter atau kerja dibidang yang lebih gue suka tanpa ada beban, pengen rasanya cepet-cepet lulus dan nyelesain kuliah yang udah ngaret 1,5 tahun ini, pengen rasanya bebas. Bebas malem-malem ditelponin sama koordinator yang nanya masalah kerjaan, bebas ketiduran dalam keadaan belum makan dan belum mandi karena kecapean dan tengah malemnya tiba-tiba kebangun gara-gara kelaparan. *Dalam hal ini gue mau berterimakasih Bukan kepada Mc Donald ataupun KFC, tapi kepada ‘warmo’, warteg 24 jam areal tebet yang siap sedia melayani gue, sip*

Kayaknya curhat gue udah terlalu panjang, jadi mohon maaf aja kalo ada yang mual karena tulisan gue, kalo mau muntah sliahkan muntah pada tempatnya, kalo udah muntah masih mual juga silahkan minum tolak angin, kalo udah muntah tiga kali masih mual juga silahkan periksakan ke dokter kandungan terdekat.

Finaly, hidup itu seperti mengayuh sepeda, harus terus mengayuh supaya rodanya tetap seimbang dan terus berputar. Jadi kayuhlah roda-roda kehidupan supaya tetap seimbang dan berputar sampai tujuan yang diinginkan. :)

Saturday, 29 October 2011

A Millisecond

If I could go back once again, I would change everything...
If I could go back once again, I'll do it all so much better...
But time won't let me go...

Selalu ada pilihan untuk weekend, dan jalan yang gue pilih adalah pergi kekantor disaat hari libur kayak gini. Disamping harusnya gue kuliah, waktu gue untuk istirahat dihari libur juga jadi tersita. Yaaa.. Mengeluh. Lagi. Setiap orang memang punya momen itu masing-masing, dimana saat mereka merasa mengeluh itu adalah hal yang wajar, begitu juga gue. Walaupun sebenernya udah jelas kalo itu sia-sia!

Bosen itu biasa, tapi kalo sambil ngigau itu udah nggak biasa. Nggak mungkin juga kan kita bisa balik lagi ke masa lalu. Tapi tetep aja, gue, masih aja suka mengandai-andai, kalo aja bisa kembali ke beberapa hari yang lalu, beberapa bulan yang lalu, atau bahkan beberapa tahun yang lalu. *Kenapa nggak sekalian aja balik lagi disaat baru pertama kali dilahirkan!*

Kenyataan waktu nggak akan pernah bisa balik lagi. You can’t play back your life. Even a millisecond.

Jadi daripada menghayal gimana caranya bisa balik lagi ke hari kemarin, kenapa nggak fokus aja supaya lebih bisa memanage semuanya jadi lebih teratur. Nggak usah lagi lah mikir gimana enaknya kalo punya kerjaan yang lebih santai suapaya kuliahya jadi nggak terbengkalai, nggak usah lagi mikirin gimana enaknya nyontek tugas-tugas kuliah biar nggak usah capek-capek mikir.

Fokus aja sama yang udah ada. Karena bersyukur itu akan lebih mudah kalo kita fokus sama apa yang kita punya, bukan sama apa yang kita ingini.

Hidup itu pilihan. Hidup itu tanggung jawab. Hidup itu konsekuensi. Hidup itu ya hari ini! Bukan kesalahan dihari kemarin ataupun bayangan dihari esok. Jadi lakukan aja yang terbaik buat sekarang.

Kalo memang sudah jelas dan benar ada keinginan, maka akan terbukalah jalan.

Friday, 14 October 2011

Nur ein wort, Hanya satu kata

Sebagai seseorang. Mungkin umum untuk memiliki banyak keinginan bahkan ambisi. Tapi kalo keinginan itu nggak pernah terwujud? Cuma jadi mimpi kosong nantinya. hampa.

Gue mau ngutip kutipannya Dewi Lestari disini:
"Bagaimana hampa bisa menyakitkan? Hampa harusnya berarti tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa harusnya berarti tidak ada masalah. Termasuk rasa sakit."

Terkadang diam itu memang indah, mengistirahtakan diri dari berbagai ambisi yang egois. Supaya bisa logis dan lebih realistis. Selanjutnya yang kita butuhkan hanyalah satu kata, diam. Tenang sejenak untuk melihat kebelakang, sebelum kembali berlari menyeimbangkan hari-hari. 

Gue dikasih video band asal Jerman sama temen gue, temen yang suka sama Jerman.

Wir Sind Helden – Nur Ein Wort:




Ich sehe, was du denkst

I see what you think

Ich denke, was du fühlst
I think what you feel

Ich fühle, was du willst
I feel what you want

aber ich hör' dich nicht
But I don't hear you

Bitte bitte gib mir nur ein Wort
Please please give me just one word

Es ist verrückt, wie schön du schweigst
It's crazy how cute you are when you're quiet

 - Wir Sind Helden-

Sunday, 9 October 2011

Mendung

Pagi ini Jakarta nggak kayak biasanya, panas dan menyegat, bikin tenggorokan selalu haus.

Cuaca pagi menjelang siang hari ini mendung dan teduh, dari dulu gue selalu suka sama mendung, mendung tanpa hujan, rasanya tenang.

Kalo dipikir-pikir, cuaca bumi akhir-akhir ini gampang galau, mood-moodan. Kadang panas, tiba-tiba hujan. Dan mendung kali ini seperti mendukung suasana hati gue yang tiba-tiba moody.


Terlihat aneh memang nulis random kayak gini. Biarlah, bukankah dengan menulis bisa mengembangkan kreativitas, menumbuhkan semangat, dan melatih diri untuk bisa bicara dengan hati. Untuk bisa bebas. Bebas bersyukur, bebas menerima skenario yang udah ada. 

Seperti yang pernah gue baca di note temen gue;

Skenario yang paling indah adalah  adalah yang kita jalani sekarang, bukan skenario yang lain-lain, apa lagi skenario sinetron Indonesia.

Tuesday, 27 September 2011

Extra-O

Gue suka merhatiin orang-orang disekeliling gue, yang gue kenal ataupun nggak, melihat mereka lebih lama, memerhatikan mereka lebih detail, mendengar mereka lebih seksama, bahkan sampai memikirkan dan membayangkan mereka, yang akhirnya kadang tanpa sengaja gue suka menyimpulkan apakah seseorang yang ada dihadapan gue itu orang baik atau orang jahat.

Disekeliling kita banyak orang pinter, orang keren, orang lucu, orang asing. Disamping itu, beberapa menganggapnya aneh.

Untuk kata aneh, gue lebih suka bilang ‘beda’ dari pada ‘aneh’. Maksudnya aneh bukan karena orang itu emang aneh alias ganjil, tapi aneh lebih ke seseorang yang unik dan beda. Entah pola pikirnya yang cerdas, cara berkompetisi dilingkunganya, gaya sehari-harinya yang khas dan menyenangkan, atau cara hidupnya yang bikin orang lain kagum.

Beda sama aneh yang beneran aneh, kayak misalnya doyan makan pizza pake kecap, makan sayur asem pake kecap, makan coklat diolesi kecap, sampe minum susu pun dicampur kecap, pokoknya apa-apa serba kecap deh. Itu baru aneh! Dan itu bukan gue!

Extra-O for Ordinary, Every ordinary people is Extraordinary.

Si A punya sifat yang cool dan menyenangkan, itu yang bikin dia jadi luar biasa. Si B pinter membangun komunikasi dan punya gaya yang unik, itu yang bikin dia jadi luar biasa. Si C doyan makan eskrim pake saos sambel, itu yang bikin dia jadi orang aneh. Eh?!

Setiap orang itu luar biasa, karena setiap karakter yang berbeda mempunyai kelebihan yang membuat sesorang jadi luar biasa.

Keluarbiasaan itulah yang bikin orang lain harusnya kagum dan suka. Bukan malah keluarbiasaan itu bikin seseorang jadi minder dan ngerasa aneh.

Tergantung bagaimana seseorang mengenal dan mampu menempatkannya.

Nggak sedikit orang yang sedikit-sedikit marah (berarti pemarah), atau sedikit-sedikit berantem (berarti petarung), atau yang sedikit-sedikit menyendiri (berarti penyendiri), atau juga yang sedikit-sedikit sedih (berarti melanklonis), atau ada lagi yang sedikit-sedikit galau (berarti abege, lho?!).

Padahal kalo aja gue, dan kita semua, tahu cara menempatkan ‘kelebihan’ itu pada tempatnya, mungkin kita bisa tahu betapa luar biasanya kita.

Misalnya yang suka marah. Karena marah lebih identik dengan semangat yang meluap-membludak, maka kalo semangat itu bisa ditempatin buat memperbesar gravitasi mimpi seseorang, nggak menutup kemungkinan kan buat kita jadi lebih mudah untuk mencapai cita-cita kita.

Misalnya yang lain yang gampang sedih. Kalo aja nggak cuma menutup kesedihan pada diri sendiri, tapi juga membagi perasaan kepada sekeliling yang memang dalam keadaan kurang beruntung, mungkin aja kan bisa bikin kita jadi lebih peka terhadap sekeliling.

Walupun memang nyata tak seindah kata, dan tindakan tak semudah opini, tapi seenggaknya minimal bisa berusaha buat bisa mengaplikasikan semua itu. Yang nantinya kalo udah bisa belajar menempatkan ‘ke-luarbiasa-an’ itu, mungkin seseorang akan lebih mudah mencapai keinginannya, secara otomatis dan secara nggak langsung –– kata mas donny dhirgantoro –– kaki akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata akan menatap lebih lama dari biasanya, dan semangat akan bertahan lebih lama dari biasanya, untuk mencapai sebuah harapan, untuk membuat orang-orang disekitar kita bangga dan kagumdan terinspirasi.

 -For you all, the extraordinary people-

Monday, 12 September 2011

New Gen

Seneng banget rasanya kalo semua keinginan kita bisa terpenuhi dengan mudah. Gue sering berangan-angan –– mudah-mudahan bisa tercapai –– suatu saat nanti bisa keliling ke tempat-tempat indah yang belum pernah gue datengin. Gue nggak mau cuma sekedar denger;

Katanya Danau toba itu bagus,

Katanya Semeru itu indah,

Katanya Raja Ampat itu keren,

Katanya Indonesia itu Luar biasa.

Katanya, katanya, dan katanya, bosen denger kata itu. Tapi apa daya, orang kayak gue itu, orang Indonesia, kebanyakan omongnya doang, walaupun nggak sedikit juga yang membanggakan.

Kemaren gue diajakin temen gue naik Gunung Gede di daerah Bogor, tapi dadakan banget, gue nggak punya persiapan sama sekali karena emang belum pernah naik gunung sebelumnya.

Rencana buat mendaki gunung sih dari dulu emang ada, tapi persiapan yang dilakukan sama sekali nggak pernah gue cicil, jadi suatu ketika –– kayak kemarin –– ada yang ngajakin gue naik gunung, gue cuma bisa bilang; “Next time deh ya, belum ada persiapan gue.” Kalo udah begini gue cuma bisa merenungi keadaan gue sebagai manusia 50%, manusia yang banyak pengennya tapi kurang mau berkorban, berkorban untuk sedikit lebih semangat dalam berusaha

Dilain hari, beberapa waktu yang lalu, sembari menjalankan tugas dari kantor, gue sempet jalan-jalan, ngeliat laut, tapi bukan laut biasa, karena gue ngeliatnya dari daratan paling barat pulau jawa, di daerah Serang di Banten sana.

Terus apa hebatnya sih kalo ada orang mendaki gunung, nyebrang laut, atau masuk ke goa. Buat gue, menikmati alam itu berarti melihat keindahan Tuhan, keindahan yang diciptakan untuk dilihat, dirasakan, direnungi, dan disyukuri. Karena alam memang diciptakan untuk dinikmati, sebagai tempat berpijak untuk kehidupan manusia, untuk di jaga, bukan dirusak!

Kalo diliat dari peta, bagian pantai paling barat pulau jawa itu, ada jalan menyusur, persis di pinggir pantai, dari bawah deket ujung kulon bagian atasnya ada panimbang, gue susuri jalan sepanjang pantai itu naik ke atas sampe wilayah pantai carita, naik lagi keatas sampe anyer, dan dibagian paling atas sampe merak.

Yang gue perhatiin disini bukan posisi jalannya yang persis menghadap pantai, tapi sepanjang jalan, waktu itu sekitar jam 10 pagi, gue buka kaca mobil, biar bisa ngerasain angin pantai, udara sejuk yang nggak banyak tercemar polusi. Disitu gue sempet ngelewatin rumah penduduk, di depannya ada bale-bale semacam tempat duduk dari bambu, dan gue ngeliat ada seorang laki-laki yang lagi duduk santai dengan tatapan kearah jalan raya yang keliatan nggak penuh arti, nggak mengerjakanan apapun, cuma duduk.

Sebenernya nggak ada yang aneh dengan semua keadaan itu, tapi entah kenapa tiba-tiba gue jadi brainstorming sama diri gue sendiri, bertanya, menjawab, dan berfikir dalam hati. Sekilas terlintas Eropa, bule, tiba-tiba loncat ke pedesaan, terus lari ke sawah, dan kembali ke susunan gedung di Jakarta. Random.

Besoknya gue balik ke Jakarta, beraktifitas lagi seperti biasa. paginya waktu gue berangkat kekantor, tiba-tiba gue brainstorming lagi sama diri gue sendiri, sama seperti waktu dipinggir jalan di sepanjang pantai ujung paling barat pulau jawa beberapa hari sebelumnya, tapi kali ini bukan karena liat laki-laki yang lagi duduk di depan rumah dengan tatapan yang keliahatan nggak punya arti, melainkan karena gue ngeliat 3 orang bule lagi jalan kaki di pinggiran trotoar di depan Fx Plaza senayan, ngeliat banyaknya asep polusi yang dikeluarin bus kota, dan ngeliat orang-orang yang lagi nunggu bus di halte deket situ.

Keadaan ini juga sebenernya umum dan sangat biasa, tapi nggak tau kenapa kali ini terasa aneh, gue ngerasa tiba-tiba banyak banget yang lewat diotak gue, entahlah.

Gara-gara brainstorming ini, gue jadi membandingkan, apa ya yang membedakan Negara maju sama Indonesia yang masih berusaha untuk maju. Apa juga yang membedakan laki-laki dengan tatapan nggak penuh arti yang gue liat dihari sebelumnya dengan 3 bule berpakaian necis yang gue liat hari ini di trotoar pinggir jalan Sudirman – Jakarta yang penuh polusi dari asep bus kota dan kendaraan lainya yang kelihatan kurang pas kalo dikombinasikan dengan penampilan keren si bule tadi.

Koruptor, polusi, penjahat, pengangguran, macet, kemiskinan, ah.. nggak ada habisnya.

Kalo dilihat dari buruknya sebuah generasi, kadang gue setuju sama pendapat yang mengatakan bahwa sebuah sistem akan lebih mudah untuk maju kalo generasi yang memperburuk sistem itu dimusnahkan dan diganti oleh generasi baru yang sama sekali belum tercemar keburukan dari generasi sebelumnya. Satu generasi penuh.

Kejelekan dan kebaikan memang nggak akan pernah ada abisnya kalo diomnongin, begitu juga dengan sebuah kemajuan dan ketertingglan. Dibandingkan dengan mengeluh dan mengkritik, harusnya kita lebih bisa mencoba untuk fokus terhadap diri sendiri terlebih dahulu sebelum akhirnya dikatakan mampu memberikan kontribusi terhadap lingkungan.

Menurut gue, berusaha menciptakan profesionalitas terhadap diri sendiri itu jauh lebih penting dari pada sekedar mengeluh bahkan mengkritik. Termasuk mempertahankan semangat dan mood yang baik supaya nggak easy come easy go. Karena mengeluh cuma bikin keadaan makin keruh.

“Oh, oh… I want some more…”

“Oh, oh.. What are you waiting  for…?”

“What are you waiting for…?”

#singing

Saturday, 13 August 2011

Antara kuping, alarm, dan SMS

Sumber bunyi sebelah kiri: “tuuuttt.. tuuuttt.. tuuuttt…” *Nada SMS masuk*

Sumber bunyi sebelah kanan: “Gedebuk! Jeduk! Guprak!” *kepala benjol nabrak pintu*

Gue suka bingung sama diri gue sendiri, lebih tepatnya sama pendengaran gue. Walupun gue udah pasang alarm 10X berturut-turut dengan snooze setiap 5 menit dan nada alarm yang kalo bunyi bisa-bisa banyak sendal bertaburan dari tetangga kiri-kanan karena berisiknya yang minta ampun, gue tetep nggak bisa denger, seolah-olah bunyi alarm yang gue pasang itu cuma nyanyian nina bobo yang bikin tidur gue semakin pules.

Kayak kejadian waktu mau sahur beberapa malam yang lalu, alarm yang udah gue pasang biarpun bunyi berulang-ulang, tapi gue tetep nggak bisa denger, giliran bunyi sms yang cuma se’emprit kayak suara jangkrik lagi sariawan, kuping gue yang tadinya low response tiba-tiba jadi super duper high response.

Gara-gara bunyi SMS itu juga gue suka panik sendiri kalo lagi tidur, diawali dengan berdiri tegak, terus lari-lari di tempat sejenak, diikuti oleh usaha untuk mencari sumber bunyi SMS, dan diakhiri dengan kejedot pintu kamar. Kacau!

Lebih parahnya kejadian itu bukan cuma sekali duakali terjadi, tapi berulang-ulang, dan yang lebih menyebalkan lagi adalah ketika gue buka SMSnya:
“Total hadiah 200jt, cek di *123*8*1# & dapatkan senyum ekslusif dari Aldi Fairus sekarang! Pengirim: 9888”

WHAT! Jam 02.00 pagi ada SMS masuk, kirain dari orang penting atau pejabat dari kabupaten mana gitu yang mau ngasih gue duit sekoper, nah ini, IKLAN! Iklannya Aldi Fairus pula.

Tolong dong, siapapun yang kenal sama Aldi Fairus, gue mau nitip salam buat dia, sekalian tolong bilangin ke dia supaya kalo mau tebar pesona itu liat-liat waktu dong, liat-liat juga siapa yang mau di senyumin, gue masih normal.

Sudahlah, ini bukan sepenuhnya salah Aldi Fairus.

Jadi salah siapa dong? Salah gue? Salah temen-temen gue? Salah Cinta? Salah yang bikin Film Ada Apa Dengan Cinta?!

Bukan, gue nggak bisa nyalahin siapa-siapa, karena sebenernya ini adalah permasalah antara gue, nada SMS, dan alarm HP, yang sampe sekarang gue masih belum nemu solusi yang tepat untuk permasalahan antara kita bertiga (gue, nada SMS, dan Alarm HP).

Dulu sih sempet kepikirian ngengganti nada Alarmnya pake nada telpon, tapi cuma berhasil beberapa kali, yang ada giliran ada telpon beneran yang masuk malah gue reject gara-gara gue pikir itu alarm yang bunyi. Makanya sekarang alarm itu gue balikin lagi biar nggak ketuker sama nada telpon.

Tuesday, 19 July 2011

Gloomy Sunday

Minggu kelabu, yang mau gue bahas disini bukan minggu kelabu (Gloomy Sunday) judul lagu komposer asal Hungaria yang bisa bikin orang yang denger lagu ini jadi bunuh diri karena terhipnotis secara nggak langsung sama lagunya, katanya begitu.

Rencana dari sabtu malam jam 12 sebelum tidur:

Minggu: Bangun pagi – Solat subuh – Olah raga – Mandi – Sarapan – Nyuci sepatu & kaos kaki – Ngoprek Laptop sama memory card – Ke kampus (ngurus aktifasi setelah cuti 6 bulan *gue abis cuti kuliah 6 bulan dari Maret 2011 kemarin*).

Yang terjadi:

Minggu: Bangun Pagi – Solat subuh – Tidur lagi – Bangun lagi jam 09.30 – Mandi – Sarapan makan siang – Ngoprek Laptop sama memory card – 3 jam kemudian… Nulis postingan buat blog dalam keadaan rusuh penuh kebetean terhadap cuaca dan hari minggu.

Itu semua dimulai dari niat gue kekampus jam 2 siang hari minggu kemarin. Gue udah mandi, pake minyak telon, pake bedak switsal, ganti baju yang gambar teletubis, pake sepatu bulu warna coklat, pake sarung tangan bulet bercorak winidepuh *sekalian aja pake popok, ngleantur kamu ini!*.

Pokoknya waktu itu gue udah ganti baju rapih-rapih, eh pas nyalain motor ternyata motornya nggak mau nyala, udah di oprak-aprek masih nggak bisa juga, kalo kekampusnya naik bis nggak mungkin, udah sore gini, belum lagi macetnya. Gagal lah rencana gue kekampus buat ngurus form aktifasi setelah cuti 6 bulan *ini gue bingun kapan sih paling lambat, takut di DO deh, bisa-bisa cuti kuliah gue berlanjut jadi seumur hidup donk. Haiah.*

Lupakan rencana kekampus minggu ini, akhirnya gue lucuti lagi pakaian gue, ganti dan ngerubah rencana dari kekampus  jadi ke bengkel buat benerin motor yang nggak ada ujan apa lagi angin tiba-tiba jadi mogok. Tapi yang terjadi, baru aja mau berangkat kebengkel, eh motornya bisa nyala. Lagi-lagi nggak ada ujan apa lagi angin tiba-tiba motor gue jadi nyala sendiri.

Karena motornya nyala lagi, yaudah gue kekamar lagi, ganti baju lagi, siap-siap lagi, *masih niat kekampus* selesai rapih-rapih lagi gue keluar dan liat keadaan sekitar kok rasanya ada yang aneh, terus liat ke langit, dan tadaaaa.. perasaan tadi nggak ada ujan apa lagi angin deh, kok sekarang jadi mendung gelap gulita bertaburan angin dimana-mana ya. Apa lagi diujung langit bagian barat tempat kampus gue bersemayam, kayaknya udah ujan disana. Suram… suram...

Berhubung  ini udah bukan termasuk kendala teknis, melainkan gejala alam, akhirnya untuk kedua kalinya GUE URUNGKAN LAGI NIAT GUE BUAT KEKAMPUS! Gue nggak mau melawan kehendak tuhan terhadap alam.

Tapi gara-gara nggak jadi kekampus untuk KEDUA kalinya dihari minggu kemarin itu, gue jadi kepikiran lagi, kalo gue telat aktifasi ntar di DO nggak ya, masih ada yang ngeganjel deh rasanya, kayak ada fisarasat buruk gitu, takut di D.O GUE!!! D.O!!! D.O!!! D.O!!! KALO AKTIFASI SETELAH CUTINYA TELAT BISA DI D.O KAN?!! IYA KAN?!! IYA KAN?!! PALING LAMBAT KAPAN SIHHH!! GUE NGGAK MAU DI D.O DARI KAMPUS!!!!!

Wednesday, 13 July 2011

Love Lost

Pa Rojak (Driver kantor tempat gue kerja): “Mas, kemaren kan saya nganter si Boss pulang ke Apartemennya.”
Gue: “Haa.. Terus?” *Ekspresi datar*
Pa Rojak: “Nah pas lagi macet kita liat banci di pinggir jalan, Saya bilang sama dia; “Boss. Look, banci, banci.” Sambil saya tunjuk-tunjuk biar si Boss tau.”
Gue: “Terus, terus?” *Mulai antusias*
Pa Rojak: “Dia malah kebingungan mas, saya juga bingung ngejelasinya gimana.”
Gue: “Terus, terus?”
Pa Rojak: “Bentar mas, Terus-terus mulu nih, lagi lampu merah tuh depan, masih 30 detik lagi.”
Gue: “Hehe, terus giamana dong tuh cerita ngejelasin bancinya?” *Makin penasaran*
Pa Rojak: “Terus saya bilang aja ke dia; “Banci Boss, half man, half woman.” Eh si Boss malah makin bingung sambil melototin tuh banci dari jauh, dipikir sodaranya yang ilang kali ya, serius banget dia merhatiinnya mas.”
Gue & Pa rojak: “huahahaha. Kacau.”
Pa Rojak: “Tapi akhirnya dia paham juga mas, kalo manusia dengan rok mini di pinggir jalan itu sebenernya laki-laki. Terus si Boss malah cengengesan nggak jelas gitu. Haha.”
*****
Pa Rojak: “Ngomong-ngomong dulu waktu ngelamar kerja kesini diwawancara si Boss nggak mas?”
Gue: “Iya, emang kenapa Pa?”
Pa Rojak: “Berarti ngerti bahasa Inggris dong mas?”
Gue: “Sedikit sih ngerti, asal YES atau NO aja. Hehe.?”
Pa Rojak: “Saya kangen sama dia nih mas, pengen SMS tapi bingung, kalo kangen itu bahasa inggrisnya apa ya?”
Gue: “Kangen itu MISS, M.I.S.S.” *Gue eja*
Pa Rojak: “Ohh.. iya iya..”
Dari obrolan sama Pa Rojak tadi, gue tiba-tiba jadi keinget orang-orang disekitar gue, kalo nanti suatu saat mereka pergi satu-persatu untuk selamanya gimana ya..” *Nglantur dalem hati merhatiin mobil-mobil yang lalu lalang*

Kata orang, kita akan ngerasa kangen dan kehilangan kalo orang-orang yang kita sayang beneran udah nggak ada, ninggalin kita. Gue nggak pernah ngebeyangin gimana rasanya pas gue tau kalo temen, sahabat, sodara bahkan orang tua gue pergi untuk selamanya.

Tapi sebenernya bukan kepergian mereka yang gue khawatirin, melainkan perasaan gue, yang bisa aja ngerasa kehilangan sebelum mereka benar-benar pergi. Ketika mereka masih ada disekitar gue sekarang, tapi gue ngerasa mereka nggak ada. Ketika perasaan maksa buat menghilangkan mereka sebelum mereka pergi. Itu yang lebih ditakutin, Love lost. Bahkan nantinya ketika mereka beneran pergi, bisa aja nggak ngerasa apa-apa lagi, jadi hal yang biasa. Menakutkan, dan orang yang kayak gini lebih terkesan sedang memerankan peran antagonis. Gue nggak mau itu.

Makanya sekarang yang bisa gue lakuin cuma berusaha menjaga hubungan yang udah ada sama orang-orang disekitar gue sebisa mungkin. Gue nggak mau mereka pergi tanpa kesan, gue pengen mereka tetep jadi bagian dari hidup gue sampe nanti. Sebelum semuanya terlambat. *Sepanjang perjalanan gue ngelantur nggak jelas kayak gini*

Pa Rojak: “Mas? Mas?” *Nyolek pundak gue*
Gue: “Iya?” *Ekspresi kaget pas lagi ngelamun*
Pa Rojak: “Kalo banci itu apa ya bahasa inggrisnya?”
Gue: “Apa ya.. jadi bingung, A.. A.. Apa ya.. Banci itu.. !@#$%^&*... Half Man Half Woman.”
Pa Rojak: “Itu mah yang saya bilang tadi.”
Gue & Pa Rojak: “Huahahahaha.”

Temper Trap – Love Lost:




*****

Oh iya, gue mau ngucapin makasih buat Anasaratu yang Udah kasih award buat blog ini, untuk pertanyaannya tentang gue suka apa aja akan gue jawab simple aja:
"Gue suka dengerin musik, suka nonton film, suka joging, suka baca buku, suka UK, suka apel merah, suka coklat, suka-suka gue aja lah pokoknya." jelir

Saturday, 11 June 2011

Mikirin hal nggak penting itu nggak penting

SMS masuk: "Makasih ya, lagi gundah banget gue, entahlah… akhir-akhir ini, gue emang lagi sering banget ngerasain yang kayak gini, peperangan gue sama hawa nafsu dan godaan setan, sehari gue menang, sehari kedepannya gue yang dikuasai. Gitu-gitu aja setiap hari, sampe capek gue, nah sekarang gue lagi kalah, entah lagi dikuasai setan atau lagi letih berperang, gue juga kurang ngerti…"

Perubahan itu simpel, tapi sering dibikin ribet, dan beberpa orang terkadang sulit untuk mengartikan kalo kemelut dan kegundahan yang ada di dalam dirinya itu sebenarnya adalah bagian dari proses perubahan itu sendiri, tapi mereka bingung menyikapinya kayak gimana, lebih tepatnya labil. Gue sendiri ngerasain itu.

Gue kurang yakin kalo sms tadi bisa dimasukan kedalam kategori transisi kehidupan atau nggak. Kita sempet smsan dan ngobrol, sampai akhirnya gue bingung mau bales apa. Karena gue bukan motivator yang ahli memotivasi, gue juga bukan ustadz yang pandai kasih tausiah, gue cuma bisa kasih masukan seadannya dengan cara gue.

Orang pasti pernah terjatuh, pernah merasa lelah, terlebih dalam menghadapi masa transisi ini, terutama bagi para pemuda yang dikasih kelebihan pola pikir yang tinggi dan gampang berubah, kadang begini, tiba-tiba begitu, kayak gue dan—sepertinya juga—temen-temen sebaya gue yang sebentar lagi akan meninggalkan masa-masa belasan tahun dan mulai masuk ke 20 tahun. 

Tergantung gimana diri sendiri menyikapinya,  gue bisa berperan sebagai abege labil yang cuma bisa mengeluh, mengeluh, dan mengeluh, jongkok sambil memeluk kaki dan kepala nunduk di pojokan kamar yang gelap dengan tidak memikirkan apapun, cuma bengong kayak ayam sakit *jangan dibayangin, ini terlalu dramatis menjurus lebay*. Atau gue juga bisa berperan sebagai tokoh utama dengan senyum menawan setiap hari dan menghabiskan waktu dari mulai bangun pagi sampai sore dengan penuh semangat dan harapan indah yang lebih baik dari waktu-kewaktu.

It’s on you, terserah mau peran kayak gimana. Yang jelas, buat gue, ketika gue terjatuh, maka gue harus bangun dan berdiri lagi, ketika keluar jalur, maka gue harus kembali kejalur yang benar. Pokoknya jangan pernah bosan untuk kembali, yang dibutuhkan ketika lelah hanyalah sedikit istirahat, sedikit saja.

Walaupun kenyataanya, teori selalu lebih mudah daripada praktik, segimanapun sempurnanya gue merancang jalan hidup gue, selalu aja ada hal-hal nggak penting yang ujung-ujungnya maksa buat nyewa kavling di otak gue, hal nggak penting yang sebenernya lebih baik di skip.
“duh gimana ya kalo tadi omongan gue bikin dia kesel, ntar gue di musuhin lagi,” “Ah… ngapain baik sama orang tapi makan ati,”  “Eh, salah apa nggak sih kalo nggak ikut nongkrong bareng mereka, takut di kucilin deh.”

Kalo terus-terusan kebanyakan mikir kayak gitu, pada akhirnya, semua hal-hal nggak penting tadi secara nggak langsung malah jadi prioritas utama, nyita hati dan pikiran. Sebenernya  kan akan lebih efektif kalo semua yang nggak penting tadi di buang aja, terus dialihin buat mikirin yang lain yang jauh lebih penting. Do the best and get the best.

Everything you think important now, won’t be anymore, its just become life. Semua yang di anggap penting sekarang ini nantinya nggak ada lagi, cuma jadi kenangan, SD ke SMP, terus ke SMA. Mana ada kita mikirin lagi masa-masa dulu pas mencret di celana waktu SD *yang ngerasa nggak usah cengar-cengir*terus mana ada juga yang sekarang lagi suntuk gara-gara mikirin dulu pas SMP diketawain anak-anak di inggir lapangan gara-gara celananya robek pas maen basket. Hallooo… itu dulu, looonngg time ago.. Walaupun semua itu pernah jadi hal besar yang sangat penting dulu, tapi sekarang kan cuma jadi kenangan aja. Kalo diinget-inget, kekonyolan dulu itu kan malah jadi hal lucu tersendiri. Hehe.

Jadi sekarang pun sama, semua hal bodoh atau nggak jelas yang dianggap penting sekarang ini nantinya bakalan nggak ada, wuusshh, ilang pas nanti udah gede bahkan udah tua dan jadi kakek-nenek. Well, mikirin hal nggak penting untuk di hayati itu beneran nggak penting.

Eh, tapi kalo diliat-liat, kok kesanya serius banget ya, pasti deh orang kayak gitu idupnya datar, nggak becanda, nggak ketawa, suram! Hmm, nggak gitu juga ah. Wajar-wajar ajalah, nggak salah kok kayaknya kalo ngomongin kucing peliharaan yang setiap mau pup bisa keluar rumah sendiri, atau dengerin cerita tentang anjing peliharaan temen yang suka joget kalo dengerin lagu dangdut, atau juga ngeledekin anak kecil tetangga sebelah sampe dia nagis dan kita ketawa *yang terakhir jangan di coba*.

Tuesday, 17 May 2011

Robin Hood versi 2011

Ketika gue lagi asik makan mi rebus di sebuah tempat makan jam 02.00 dini hari.

Pengamen: “Mi rebus pake telor bang satu, berapa?” *Sambil naruh gitar dan ngeluarin receh (uang logam) dari bungkus permen* 
Penjual:  “Enem ribu mas.” 
Si pengamen ngitungin recehnya sambil di susun diatas meja. 
Pengamen: “kalo nggak pake telor berapa bang?” 
Penjual: “Empat ribu.” 
Pengamen: “Enggak usah pake telor deh, duit gue nggak cukup, hehe.” *Senyum kepaksa* 
Gue: “Baru pulang ngamen bang?” *Sok akrab* 
Pengamen: “iya.” *Jutek* 
Gue: “Dapet banyak hari ini?” 
Pengamen: “Dikit.” *Makin jutek dengan lirikan aneh* 
Gue: “Gue traktir ya bang mi nya, itung-itung salam kenal, gimana?” 
Pengamen: “MAKSUD LO APAAN SOK-SOK TRAKTIR GUE, MENTANG-MENTANG GUE PENGAMEN TERUS LO NGERENDAHIN GUE GITU??? GUE MASIH MAMPU KALO CUMA BAYAR MI DOANG! BELAGU BANGET LO JADI ORANG!!!” *Sambil narik kaos gue*

WHAT THE DUCKKK!!! KAGET ASLI! Maksud gue padahal baik, cuma pengen berbagi dan berteman sama dia, siapa tau bisa saling sharing. tapi baru niat aja gue udah ngebayangin yang aneh-aneh, kayak dialog diatas, padahal gue belum nyoba buat nyapa dia. Untunglah itu semua cuma khayalan gue doang, belum sempet kejadian.

Gara-gara ngebayangin yang nggak-nggak tadi akhirnya gue urungkan niat gue buat nyapa dan nraktir si pengamen berambut cepak ala Samuel Rizal dengan kaos abu-abu, celana jins biru keabu-abuan dan berspatu hitam itu. Walaupun sebenernya gue pengen banget kenal sama dia, lagi pula sebenernya penampilan dia nggak nyeremin-nyeremin amat kok, lebih mirip kayak vokalis rock band kalo menurut gue.

Sudahlah, mungkin ini bukan rejeki dia, dan bukan takdir gue juga buat bisa nabung (Duit yang gue punya ini bukan apa-apa ketika gue mati nanti, tapi harta yang sebenernya yang gue punya itu adalah yang gue amalkan, yang akan gue bagi manfaatnya yang nanti dibawa ke akhirat).

Akhirnya sampe selesai makan mi gue dan dia tetep bisu-bisuan tanpa sepatah kata sapaan pun. Walaupun pas gue mau bayar gue sempet mau bayarin mi yang si pengamen makan tadi diem-diem, tapi lagi-lagi gue urungkan niat itu gara-gara lirikan dia kearah gue pas gue ngeluarin duit, gue makin takut khayalan gue tadi jadi kenyataan. Dongkol rasanya, pengen berbuat baik aja susah. Susah ngilangin gengsi, susah gara-gara mikir yang enggak-enggak, bahkan diem-diem pun tetep aja susah.

Pengen rasanya suatu saat nanti gue menyelinap disebuah antrian didepan ATM, terus gue ambil duit dari ATM di depan antrian itu sebanyak yang gue bisa, abis itu gue bagiin deh duit itu buat orang yang emang ngebutuhin, secara acak di berbagai tempat. Walupun gue harus dikejar-kejar sama si pemilik kartu ATM yang gue colong di antrian itu. Yah! kedengaranya keren, kayak robin hood. *abaikain ke-ngaco-an ini*

Monday, 9 May 2011

My first accident

Emergency room, 10.00 pm:
Gue: “Suster, saya kecelakaan nih, harus kemana?” 
Suster: “Duh lagi penuh mas, duduk dulu deh ya di situ.” Nunjuk tempat duduk.
Ohh goshh!!! Seperti ini kah pelayanan RS di Indonesia. Bete tingkat dewa gue sama si suster yang malah nyuruh gue duduk tadi.
Gue: “Tapi sus, tangan saya bedarah-darah nih, emang sama sekali nggak ada yang bisa nanganin lagi ya?” Sambil nunjukin tangan gue yang berlumuran darah ke depan muka sisuster itu. 
Suster: “loh loh. Kok bisa gitu mas? Kenapa? Sini-sini masuk kesini, biar diliat lukanya.” Diajak masuk ke sebuah ruangan buat di obtain.
Beberapa menit kemudian, gue keluar dengan balutan kain kasa.


Gue pernah denger, nggak tau kata siapa. Katanya kalo orang naik motor itu pasti dan akan pernah merasakan kecelakaan, walaupun cuma satu kali. Tadinya gue sempet mencoba dan berusaha untuk bisa mematahkan anggapan orang yang ngomong kayak gitu itu. *Takabur, Astagfirullah, ampuni dosaku ini yaa Tuhan*. Tapi pada akhirnya, gue tumbang juga. Kemarin gue kecelakaan, lebih tepatnya ditabrak dari samping.

Jum’at, tanggal 29 april, sekitar jam 21.00 kalo nggak salah. Kejadiannya pas gue baru pulang kantor, posisi gue di jalan yang cukup sepi dengan santainya naik motor, tiba-tiba JEGERR! Motor gue ditabarak tepat di bagian samping kanan sama motor yang muncul dengan ngebutnya dari gang kecil di sebelah kanan. Yang terlintas di otak gue banyak banget waktu itu, cuma dalam hitungan milisecond sepertinya:
“Sial gue di tabrak! Akhinya tiba juga waktunya gue merasakan yang namanya kecelakaan” 
“Mudah-mudahan nggak ada banci di sekitar sini yang pura-pura nolongin gue tapi malah ngeraba-raba kayak waktu itu.” 
“Astagfirullah, kok tadi gue malah bilang sial ya, harusnya kan inna lillahi.” 
“inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. 
“Kalo ini waktunya gue mati gimana ya?” 
“Ikhlas deh yaa Tuhan, tapi masukin gue ke surga ya. Amin.”
Gubrak! Motor yang nabarak gue jatoh, orangnya juga. Banyak serpihan dimana-mana. Gue langsung berdiri, ngecek kelengkapan badan dari dada turun keperut masih utuh, liat kaki juga juga masih napak ditanah. Palingan cuma sedikit lebam-lebam nih badan gue, sama kaki kayaknya bengkak, pegel ih. Yang penting Alhamdulillah gue masih idup. Cek motor  gue juga nggak ada yang pecah, cuma bagian setang depan aja agak keras dan rusak.

Gue hampiri orang yang tadi nabrak gue, dia lagi berdiri ngecek motornya yang rusak parah.
Gue: “Nggakpapa?” 
Penabrak: “Nggakpapa bang, tapi motor gue ancur nih bang, giginya nggak bisa dimasukin, mati, gimana nih bang.” *Nada-nadanya minta ganti ini*.
Dalam hati gue ngegerutu, padahal dia yang salah; 1. Nyebrang nggak liat-liat, ngebut pula; 2. Nggak nyalain lampu; 3.Nggak pake helem; 4. Udah nabrak bukannya ngaku salah dan minta maaf.

Gue cuma bisa menghela napas. Lagian kalo gue marah-marah nggak ada gunanya, gue minta ganti rugi juga kayaknya nggak mungkin, dari penampilannya, si penabarak itu kayaknya masih SMP atau baru-baru SMA, cuma pake kaos, celana pendek, tampang masih kecil, bawa motor ugal-ugalan, udah salah nggak mau ngaku pula. Sungguh, ababil dosis tinggi ini!

Mencoba berpikir positif, gue putuskan untuk minta maaf duluan.

“wah, maaf ya, gue nggak liat lo nyebrang, lagian kenapa ngebut-ngebut? Nggak nyalain lampu pula.”  Gue ngomong dengan pelan ke sipenabrak itu.

Liat gue minta maaf dia malah bingung, mungkin dia takut kalo gue malah minta ganti rugi sama dia, karena kalo diliat dari berbagai sudut manapun, yang salah tetep aja dia.

Tampang dia bingung, cuma nunduk kebawah, sepertinya tidak bisa berkata-kata lagi. Tapi kemudian dia ngeliat ke arah gue: “bang itu, tanganya bang, bedarah, ngucur tuh netes-netes.”

Inalillahi, jari tengah tangan kanan gue robek lumayan lebar, pantesan berasa pegel gimana gitu. Sempet gue pegangin dan tutup lukanya pake tangan kiri gue, tapi nggak berenti. Rumah sakit, rumah sakit, gue harus cari rumah sakit. Gue tinggalin sibocah tadi dan langsung cari rumah sakit yang deket.

Pelajaranya yang gue ambil malam itu:

  1. Motor gue pengertian, minta maen kebengkelnya pas kebetulan udah gajian. He.
  2. Kalo dapet rejeki harusnya yang pertama dipikirin adalah sebagian dari duit itu ada yang bukan hak gue, jadi harus sadar buat berbagi, jangan cuma mikirin kepentingan pribadi aja. Dari pada harus diambil secara paksa. Duitnya masuk ke administrasi RS deh sama bengkel motor