Tuesday, 7 December 2010

Indonesian syndrome

Indonesia emang kreatif, liat aja, ‘three in one’ di semanggi bisa jadi duit buat para joki jalanan, formalin bisa jadi pengawet ampuh buat tukang bakso, bahkan yang tebaru liat di tv rinso dan klorin bisa jadi bahan supaya ikan, udang dan sejenisnya jadi keliahatan lebih segar dan nggak pucat. 

Canggih. Menurut gue para penjual itu dulu waktu sekolah pasti nilai kimianya bagus, sampe bisa bereksperimen kayak gitu.

Kemarin gue kena diare, bolak-balik ke toilet sampe 26 kali seharian penuh (ini bneran gue itung, emang agak lebay, tapi gue ga boong). Alhasil gue nggak kuliah. Meliburkan diri karena lemes. Bahkan saking lemesnya gue jadi berhalusinasi dan kepikiran Vidi Aldiano (penyanyi).

Lho?! Kok bisa?
Iya, Kalo Vidi kan punya: “cemburu menguras hati”.
Nah Gue: “diare menguras perut”. Kacau.

Nggak enak rasanya bolak-balik ke toilet sering-sering, seakan-akan jatah bab selama seminggu sekaligus dilakuin dalam sehari (express), gue sampe mikir, kayaknya setelah sembuh dari diare, seminggu kedepan gue bakalan libur bab. Halah.

Gara-gara diare juga gue jadi parno buat jajan sembarangan. Walaupun gue rasa makanan yang gue beli bersih, buktinya gue kena diare juga. Apalagi setelah liat para penjahat kimia di tv barusan, makin takut buat beli makanan di pinggir jalan.

Dear diare, bukan diary...

Kau buat perutku mules, badanku lemes, dan kepakalaku jadi pening...
Diare oh diare...
Mengapa kau datang tak diundang, tapi pergi harus diusir…
Mengapa tak seperti jelangkung yang mandiri, datang dan pergi seorang diri...
Duhai diare...
Aku minta maaf jika membuat mu tersinggung, tapi kumohon, jangan pernah kau kembali...
Pergilah kau dengan tenang wahai diare, kuyakin kau kan temukan yang lebih setia...

- Oleh Rizaldy yang menahan pahitnya obat diare- busuk